Posted by Unknown at 01.06
Read our previous post
aku tak pernah punya kehendak atas keberadaanku di dunia iniaku tak pernah meminta: dimana, dalam rahim siapa, dengan keyakinan apa
aku dilahirkan
itu mengalir begitu saja,...seperti hujan turun ke bumi yg akhirnya
akan kembali lagi ke awan
seperti daun kering yang jatuh ke tanah, membusuk, menjadi humus
dan kembali lagi ke pohon
tak ada kehendak sedikitpun dalam diriku
untuk mempengaruhi kehendak kehidupan
biarpun itu kelahiranku sendiri...
saat perbedaan, status sosial, profesi jadi dasar kebencianmu padaku
itu kutrima sebagai tanda cintamu
karena benci dan cinta adalah satu wajah
dengan dua rasa
saat hidupku menjadi batu sandungan buatmu
maka sadarilah, itu bukan kehendakku
karena yang punya kehendak
Dialah yang empunya kehidupan ini
aku hanya bisa setia pada realitas yang datang padaku
entah itu manis, pahit, sakit, pedih kujalani...
saat aku setia pada kehidupan ini, artinya
aku harus siap tidak jadi apa-apa dan siapa-siapa
aku hanya setia pada yang Berkehendak pada hidupku ini
Dialah Gusti Yang Maha Suci....
Kalau sekarang aku merasa punya kehendak pada hidupku ini, koq aku tidak mengaca pada fitrah kelahiranku sendiri yg aku tdk bisa memilih untuk dilahirkan dimana, andai aku bisa memilih tentunya hidupku tidak seperti sekarang ini.
Hidupku kacau balau, porak poranda, tanpa harapan, duka...duka dan hanya duka, itulah realitas hari-hariku, seakan aku harus menebus kesalahanku yg dulu2 sebelum aku ada...begitu deras, kencang kepahitan ini mendera bertubi-tubi tanpa ampun.
dan aku hanya sendiri....sendiri, merasa sendiri.
Mungkin banyak yang mencibir tulisanku ini, apa sih yg baik dari hanya seorang PK?
seolah apa yang aku lakukan, yang aku katakan, yang aku tuliskan selalu salah.
mereka hanya melihat dari yang terlihat, yang terlihat sampah apa mungkin bisa membuat harum?
tapi aku sudah terbiasa dengan semua ini, tatapan miring, makian, cacian, hardikan, cibiran dari orang2 disekitarku atau tamu-2ku,
yang paling sakit, saat orang-orang yang aku topang hidupnya masih memandangku dengan sinis, seakan-akan aku ini selalu pembawa masalah, pembawa aib keluarga Ooh Tuhan....
mereka pikir mudah mencari uang dengan profesiku seperti ini, kalau saja aku mau diajak tidur dengan tamu-tamuku mungkin uang bukanlah masalah bagiku. tapi sekarang pesaing semakin banyak, kadang dengan persaingan2 yg tidak sehat, kadang bisa sehariaan tdk dapat penghasilan. Kalaupun dapat penghasilan itupun aku lakukan dengan kerja keras, nemenin tamu minum alkohol, menjaga perasaan tamu2 yg punya latar belakang beda2, itu membuat miris.
Aku sadar kalo aku sakit, batuk tdk pernah bisa hilang, setiap batuk keras dan banyak beban pasti keluar darah, sebenarnya aku sadar kalo aku harus berhenti minum alkohol untuk meminimalisir rasa sakitku, tapi bagaimana mungkin dengan profesiku yg seperti ini?
banyak yang menyuruh berhenti dari profesiku yg sekarang ini tanpa memberi solusi, bagaimana?
bebanku masih tinggi, dengan 3 anak dan masih menanggung beban keluarga.
aku pernah berpikir, kalau saja aku mati, bagaimana nasib anak2ku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar